Author: Bianda Fedia Puspitasari
•05.31.00
PSIKOTERAPI


Terapi Psikoanalisa

Sigmund Freud(c) http://ichef.bbci.co.uk/

Psikoanalisis adalah suatu sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan freud dan menjadid dasar dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. psikoanalisis memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik. dorongan -dorongan ini sebagian disadari dan sebagian lagi, bahkan sebagian besar tidak disadari. Psikoanalisis sebagai teori dari psikotera[i berasa; dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil, Gunarsa (1996).

Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi



Konsep - Konsep Terapi Psikoanalisis

1. Struktur Kepribadian 


  • Id. 
Id merupakan bagian primitif dari kepribadian Id mengandung insting seksual dan insting agresif. Id membutuhkan kepuasan segera tanpa memperhatikan realitas yang ada.
  • Ego
Ego disebut perinsip realitas. ego menyesuaikan diri dengan realitas
  • Super ego
Super ego merupakan prinsip moral, yaitu mengontrol perilaku dari segi moral.

2. Pandangan Mengenai Sifat Manusia
  • Pandangan freud mengenai sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic, mekanistik dan reduksionistik 
3. kesadaran & ketidaksadaran

a. konsep ketaksadaran
  • Mimpi-mimpi → merupakan representative simbolik dari kebutuhan-kebutuhan, hasrat-hasrat konflik
  • Salah ucap / lupa → terhadap nama yang dikenal
  • Sugesti pascahipnotik
  • Bahan-bahan yang berasal dari teknik-teknik asosiasi bebas
  • Bahan-bahan yg berasal dari teknik proyektif 
4. Kecemasan 

Adalah suatu keadaan yg memotifasi kita untuk berbuat sesuatu kecemasan berfungsi untuk memperingatkan adanya ancaman bahaya. Macam-macam kecemasan
  • Kecemasan realistis
Merupakan kecemasan yang timbul dari ketakutan terhadap bahaya yang nyata.
  • Kecemasan neurotic
Kecemasan atau perasaan takut akan mendapatkan hukuman atas keinginan yang implusif.
  • Kecemasan moral
Merupakan kecemasan yang berkaitan dengan moral. seseorang merasa cemas karena melanggar norma-norma moral.

Tujuan terapi


  • Membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat pasien sadar akan hal yang selama ini tidak disadarinya. 
  • Mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutan yang ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini. 
  • Fokus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
  • Bertujuan agar klien neurotik memiliki ego yang cukup lentur untuk bergeser diantara fungsi-fungsi ego yang bertentangan dan memadukannya dengan memperhatikan batas-batas yang ditentukan oleh konflik-konflik neurotik.
  • terapi psikoanalisa juga bertujuan untuk menggantikan tingkah laku defensif dengan tingkah laku yang lebih adaptif, sehingga klien dapat menemukan kepuasan tanpa menghukum dirinya sendiri atau orang lain.
Fungsi & Peran Terapis


 • Terapis / analis membiarkan dirinya anonym serta hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada teapis / analis 

• Peran terapis
  • Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hub personal dlm menangani kecemasan secara realistis
  • Membangun hub kerja dengan klien, dengan banyak mendengar & menafsirkan
  • Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien
  • Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan & pertentangan-pertentangan pada cerita klien
Tekni Terapi Psikoanalisa

Sigmund Freud (c)www.loc.gov

Teknik dasar untuk melaksanakan psikoanalisa adalah dengan meminta pasien berbaring di dipan khusus (couch) dan psikoanalis duduk dibelakangnya, jadi posisi pasien menghadap kearah lain, hal tersebut dilakukan agar pasien tidak mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas, tanpa merasa terhambat, tertahan dan tanpa harus memilih mana yang dianggap penting dan tidak penting. Lima teknik dasar terapi psikoanalisa yaitu dibawah ini : 

1. Asosiasi Bebas. 

Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lampau yang dikenal dengan sebutan katarsis. Selama proses asosiasi bebas berlangsung, tugas analis adalah mengenali bahan yang direpres dan dikurung di dalam ketaksadaran. Penghalangan-penghalangan atau pengacauan-pengacauan oleh klien terhadap asosiasi-asosiasi merupakan isyarat bagi adanya bahan yang membangkitkan kecemasan. Analis menafsirkan bahan itu dan menyampaikannya kepada klien, membimbing klien ke arah peningkatan pemahaman atas dinamika-dinamika yang mendasarinya, yang tidak disadari oleh klien. 

2. Penafsiran. 

Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan transferensi-transferensi. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran-penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Dengan perkataan lain, analis harus bisa menafsirkan bahan yang belum terlihat oleh klien, tetapi yang oleh klien bisa diterima dan diwujudkan sebagai miliknya.

3. Analisis Mimpi. 



Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketaksadaran, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari diungkap. Mimpi-mimpi memiliki dua taraf isi, yaitu laten dan isi manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik dan tak disadari. Karena begitu mengancam dan menyakitkan, dorongan-dorongan seksual dan agresif tak sadar yang merupakan isi laten ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yakni impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi. Proses transformasi isi laten mimpi ke dalam isi manifes yang kurang mengancam itu disebut kerja mimpi. Tugas analis adalah menyingkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat pada isi manifes mimpi, selama jam analitik, analis bisa meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian guna menyingkap makna-makna yang terselubung. 

4. Analisis dan Penafsiran Resistensi 

Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan depresi itu. Resistensi ditunjukkan untuk mencegah bahan yang mengancam memasuki ke kesadaran, analis harus menunjukannya, dan klien harus menghadapinya jika dia mengharapkan bisa menangani konflik-konflik secara realistis. Resistensi-resistensi bukanlah hanya sesuatu yang harus diatasi. Karena merupakan perwujudan dari pendekatan-pendekatan defensif klien yang biasa dalam kehidupan sehari-harinya, resistensi-resistensi harus dilihat sebagai alat bertahan terhadap kecemasan, tetapi menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih memuaskan.

5. Analisis dan Penafsiran Transferensi 

Analisis transferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Penafsiran hubungan transferensi juga memungkinkan klien mampu menembus: konflik-konflik masa lampau yang tetap dipertahankannya hingga sekarang dan yang menghambat pertumbungan emosionalnya. Singkatnya efek-efek psikopatologis dari hubungan masa dini yang tidak diinginkan, dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik dengan analis.

Daftar Pustaka

Basuki, H.M.A. (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma
Corey, Gerald. (2005). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama.
Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia

Author: Bianda Fedia Puspitasari
•10.17.00

PSIKOTERAPI



Perbedaan Psikoterapi dan Konseling

Konseling dan psikoterapi memiliki perbedaan dimulai dari pengertian, tujuan, klien , konselor, dan penyelenggara hingga metode yang digunakan.

menurut ivey & simek-downing 1980 ( dalam Gunarsa, S.D. 1996) psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian. sedangkan konseling dikemukakan sebagai proses yang lebih intensif berhubungan dengan upaya membantu orang normal mencapai tujuannya dan agar berfungsi lebih efektif.

Tujuan



Hahn & MacLEan 1955 ( dalam Gunarsa, S.D. 1996) mengemukakan mengenai tujuan konseling  yang menitikberatkan pada upaya penecgahan agar penyimpangan yang merusak dirinya tidak timbul sedangkan psikoterapi terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani usaha pencegahannya. 
Menurut Mowrer 1953( dalam Gunarsa, S.D. 1996) konseling berhubungan dengan usaha mengatasi klien yang  mengalami gangguan kecemasan biasa [normal anxiety] sedangkan psikoterapi berusaha menyembuhakn klien atau pasien yang menderita neurosis-kecemasan [neurotic anxiety]. sedangkan menurut Tyler 1961 ( dalam Gunarsa, S.D. 1996)  konseling berhubungan dengan proses bantuan terhadap klien agar menumbuhkan identitas sedangkan psikoterapi berusaha melakukan perubahan pada struktur dasar perkembangannya.

Blocher 1966 ( dalam Gunarsa, S.D. 1996) membedakan psikoterapi dan konseling dengan melihat pada tujuannya
Konseling => Developmental - Educative . Preventive
Psikoterapi => Remediative - Adjustive - Therapeutic
Klien, Konselor dan Penyelenggara




Blocher 1966 (dalam Gunarsa, S.D. 1996) mengungkapkan ciri-ciri untuk membedakan konseling dan psikoterapi, sebagai berikut: 

  1. Klien yang menjalani konseling tidak digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa, tetapi dipandang sebagai seseorang yang mempu memilih tujuan-tujuannya, membuat keputusan dan secara umum bisa bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan terhadap hari depannya .
  2. Konseling dipusatkan pada keadaan sekarang dan yang akan datang.
  3. Klien adalah klien bukan pasien. konselor bukanlah tokoh "otoriter" namun adalah seorang "pendidik" atau "mitra" dari klien dalam melangkah bersama untuk mencapai tujuan.
  4. Konselor tidaklah netral secara moral atau tidak bermoral, melainkan memiliki nilai nilai, perasaan dan normalnya sendiri, meskipun konselor tidak perlu memaksakan hal ini kepada klien, namun ia juga tidak menutupi nya.
  5. Konselor memusatkana pada perubahanprilaku, tidak hanya menumbuhkan perhatian.
Metode



Steffire & Grant (dalam Gunarsa, S.D.) menjelaskan perbedaan metode konseling dan psikoterapi, perbedaannya adalah sebagai berikut: 

Konseling ditandai oleh jangka waktu yang lebih singkat, lebih sedikit waktu pertemuannya, lebih banyak melakukan evaluasi psikologis, lebih memperhatikan masalah sehari-hari klien, lebih memfokuskan pada aktivitas kesadaran, lebih memberikan nasihat, kurang berhubungan dengan transferens, lebih menekankan pada situasi yang rill, lebih kognitif dan berkurang intensitas emosi, lebih menjelaskan atau menerangkan dan lebih sedikit kekaburannya. 

Dapat disimpulkan perbedaan konseling dan psikoterapi sebagaimana diungkapkan oleh pallone (1977) dan Patterson (1973) adalah sebagai berikut

Konseling

  1. Klien
  2. Gangguan yang kurang serius
  3. Masalah Jabatan, Pendidikan
  4. Berhubungan dengan pencegahan
  5. Lingkungan pendidikan dan non-medis
  6. Berhubungan dengan kesadaran
  7. Metode Pendidikan
Psikoterapi
  1. Pasien
  2. Gangguan yang serius
  3. Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
  4. Berhubungan dengan penyembuhan
  5. Lingkungan Medis
  6. Berhubungan dengan ketidak sadaran
  7. Metode Penyembuhan
Bentuk - Bentuk Utama Terapi



Phares (dalam Markam 2007) membedakan bentuk bentuk utama terapi menjadi dua aspek, yaitu menurut taraf kedalamannya dan menurut tujuannya. Menurut kedalamannya dibedakan psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan psikoterapi rek ronstruktif .

  • Psikoterapi suportif 
bertujuan untuk memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan psikologis dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam alam bawah sadar klien. Alasan penghindaran karena kalau akan “dibongkar” ketidaksadarannya, klien ini mungkin akan menjadi lebih parah dalam penyesuaian dirinya. Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya.


  • Psikoterapi reedukatif
bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif. Terapis mengajak klien atau pasien untuk mengkaji ulang keyakinan kilen, mendidik kembali agar ia dapat menyesuaikan diri lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas persoalannya. Terapis tidak hanya membatasi diri membahas kesadaran saja, namun juga tidak terlalu menggali ketidaksadaran. Psikoterapi jenis reedukatif ini biasanya yang terjadi dalam konseling.

  • Psikoterapi rekonstruktif
bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian pasien/klien, dengan menggali ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang patologis, member pemahaman akan adanya proses-proses tak sadar dan seterusnya. Psikoterapi jenis ini berkaitan dengan pendekatan psikoanalisis dan biasanya berlangsung intensif dalam waktu yang sangat lama.


Sumber

Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
Markam, S.L.S., Sumarmo. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)




-Bianda Fedia-
Author: Bianda Fedia Puspitasari
•01.13.00

PSIKOTERAPI

(c)http://i.huffpost.com/gen/1522125/images/o-KINDS-OF-PSYCHOTHERAPY-facebook.jpg


Pengertian Psikoterapi

     Wolberg 1954 (dalam Singgih D. Gunarsa) Merumuskan psikoterapi sebagai bentuk perawatan (atau perlakuan, treatment terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari faktor emosi pada mana seseorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah suatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola prilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara positif. 

(c)http://lilinkecil.com/

       sedangkan menurut ivey & simek-downing 1980 ( dalam Singgih D. Gunarsa 1996) psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian.
     Menurut Wampold (dalam Kertamuda, 2010) psikoterapi adalah cara yang paling utama dalam interpersonal yang berlandaskan pada prinsip-prinsip psikologikal. Prinsip tersebut termasuk pada terapis dan klien yang mengalami gangguan mental, masalah atau complain. Hal tersebut diadaptasi secara individual pada klien tertentu yang memiliki gangguan tersebut.
       Dari beberapa paparan tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa psikoterapi merupakan suatu proses jangka panjang dalam bentuk perawatan/tindakan/treatmen yang dilakukan oleh seorang yang profesional dan terlatih berlandaskan pada prinsip - prinsip psikologikal, terhadap pasien dengan tujuan untuk memindahkan, mengubah dan mengkonstruksi seseorang yang terganggu pola prilakunya, memiliki masalah atau mengalami gangguan mental.

Tujuan Serta Unsur - Unsur Psikoterapi

      Singgih D. Gunarsa (1996) mengungkapkan bahwa tujuan psikoterapi adalah untuk terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani pencegahan. Sedangkan Tyler 1961 (dalam Singgih D.Gunarsa 1996) mengatakan bahwa tujuan dari psikoterapi adalah untuk melakukan perubahan pada strukur dasar perkembangan. Menurut Mowrer 1953 (dalam Singgih D.Gunarsa 1996) Psikoterapi bertujuan untuk menyembuhkan pasien atau klien yang menderita neurosis - kecemasan [neurotic anxiety]. Sarwono (2009) menjelaskan tujuan psikoterapi adalah untuk mengembalikan keadaan kejiwaan klien yang terganggu (mulai dari masalah ringan-gangguan mental berat) agar bisa berfungsi kembali dengan optimal sehingga klien tersebut bisa merasa dirinya lebih sehat mental.



Corey (2005) memaparkan ada tujuan-tujuan psikoterapi  diantaranya :
  • Klien menjadi lebih menyadari diri, bergerak ke arah kesadaran yang lebih penuh atas kehidupan batinnya, dan menjadi kurang melakukan penyangkalan dan pendistorsian.
  • Klien menerima tanggungjawab yang lebih besar atas siapa dirinya, menerima perasaan-perasaannya sendiri, menghindari tindakan menyalahgunakan lingkungan dan orang lain atas keadaan dirinya, dan menyadari bahwa sekarang dia bertanggungjawab untuk apa yang dilakukannya.
  • Klien menjadi lebih berpegang pada kekuatan-kekuatan batin dan pribadinya sendiri, menghindari tindakan memainkan peran orang yang tak berdaya, dan menerima kekuatan yang dimilikinya untuk mengubah kehidupannya sendiri.
  • Klien memperjelas nilai-nilainya sendiri, mengambil perspektif yang lebih jelas atas masalah-masalah yang dihadapinya, dan menemukan dalam dirinya sendiri penyelesaian-penyelesaian bagi konflik-konflik yang dialaminya.
  • Klien menjadi lebih terintegrasi serta menghadapi, mengakui, menerima, dan menangani aspek-aspek dirinya yang terpecah dan diingkari, dan mengintegrasi semua perasaan dan pengalaman ke dalam keseluruhan hidupnya.
  • Klien belajar mengambil resiko yang akan membuka pintu-pintu ke arah cara-cara hidup yang baru serta menghargai kehidupan dengan ketidakpastiannya, yang diperlukan bagi pembangunan landasan untuk pertumbuhan.
  • Klien lebih mempercayai diri serta bersedia mendorong dirinya sendiri untuk melakukan apa yang dipilih untuk dilakukannya.
  • Klien menjadi lebih sadar atas alternatif-alternatif yang mungkin serta bersedia memilih bagi dirinya sendiri dan menerima konsekuensi-konsekuensi dari pilihannya.


Unsur-Unsur Psikoterapi

Menurut (Masserman 1984) ada tujuh “parameter pengaruh” yang mencakup unsur-unsur pada psikoterapi, yaitu:

  1. Peran sosial (martabat) psikoterapis 
  2. Hubungan (persekutuan terapeutik) 
  3. Hak Retrospreksi 
  4. Re-edukasi 
  5. Rehabilitasi 
  6. Resosialisasi 
  7. Rekapitulasi


Daftar Pustaka:

Corey, G. (2005). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama
Gunarsa, D.S. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Kertamuda, F. (2010). Konseling: Teori dan Ketrampilan Dasar. Jakarta: Universitas Paramadina
Sarwono, S.W. (2009). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
https://books.google.co.id/books?id=mfsgp_zkmWwC&pg=PA521&dq=unsur+unsur+psikoterapi&hl=id&sa=X&ei=VvkKVZbpKo6eugTTy4K4DQ&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false


Author: Bianda Fedia Puspitasari
•03.28.00

Komunikasi dalam Manajemen




A. Definisi Komunikasi

Devito (2011) mengungkapkan komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirimkan dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk mrlakukan umpan balik.

(c)http://www.freinademetzcenter.org/jfcclibrary/images_book/20121210154431.jpg

sedangkan menurut Rogers dan D. Lawrence Kincaid (dalam Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc 1998Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam 

B. Proses Komunikasi

Lubis W. L (2008) mengungkapkan yang dimaksud dengan proses komunikasi adalah proses yang menggambarkan kegiatan komunikasi antar manusia yang bersifat interaktif, relasional, dan transaksional dimana komunikator mengirimkan pesan kepada komunikan melalui media tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu. Sejalan dengan pendapat Gibson (dalam Lubis W. L 2008) proses komunikasi terdiri dari lima unsur yakni: 
  • Komunikator, 
  • pesan, 
  • perantara, 
  • penerima, dan 
  • balikan. 

Adapun Lasswell  (dalam Lubis W. L 2008), yaitu orang pertama yang mengajukan model proses komunikasi membuat formula sebagai berikut: Siapa, mengatakan apa, bagaimana caranya, kepada siapa, dan apa hasilnya. Sementara Berlo  (dalam Lubis W. L 2008) menggambarkan proses komunikasi terdiri dari tujuh elemen yakni:
  1. Sumber komunikasi
  2. Pengkodean
  3. Pesan
  4. Saluran
  5. Pendekodean 
  6. Penerima, dan
  7. Umpan balik. 

C. Hambatan Komunikasi



1. Media 
  • Hambatan teknis, misalnya masalah pada teknologi komunikasi (microphone, telepon, power point, dan lain sebagainya). 
  • Hambatan geografis, misalnya blank spot pada daerah tertentu sehingga signal HP tidak dapat ditangkap. 
  • Hambatan simbol/ bahasa, yaitu perbedaan bahasa yang digunakan pada komunitas tertentu. Misalnya kata-kata “wis mari” versi orang Jawa Tengah diartikan sebagai sudah sembuh dari sakit sedangkan versi orang Jawa Timur diartikan sudah selesai mengerjakan sesuatu. 
  • Hambatan budaya, yaitu perbedaan budaya yang mempengaruhi proses komunikasi.
2. Komunikator
  • Hambatan biologis, misalnya komunikator Hambatan psikologis, misalnya komunikator yang gugup. 
  • Hambatan gender, misalnya perempuan tidak bersedia terbuka terhadap lawan bicaranya yang laki-laki. 
3. Komunikate
  • Hambatan biologis, misalnya komunikate yang tuli. 
  • Hambatan psikologis, misalnya komunikate yang tidak berkonsentrasi dengan pembicaraan. 
  • Hambatan gender, misalnya seorang perempuan akan tersipu malu jika membicarakan masalah seksual dengan seorang lelaki.
D. Definisi Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan kepada pihak lain untuk mendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face) maupun dengan media. Berdasarkan definisi ini maka terdapat kelompok maya atau faktual. Contoh kelompok maya, misalnya komunikasi melalui internet (chatting, facebook, email, etc.). Berkembangnya kelompok maya ini karena perkembangan teknologi media komunikasi. Terdapat definisi lain tentang komunikasi interpersonal, yaitu suatu proses komunikasi yang bersetting pada objek-objek sosial untuk mengetahui pemaknaan suatu stimulus.

Pelatihan dan Pengembangan

(c)http://aspyratraining.com/

A. Definisi Pelatihan

Pelatihan menurut Sikula, 1976 (dalam Munandar 2008) adalah proses pendidikan jangka pendek yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisasi, sehingga tenaga kerja nonmanajerial mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis untuk tujuan tertentu. Sedangkan pengembangan adalah proses pendidikan jangka panjang yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir, sehingga tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum. definisi lain mengenai pelatihan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mrningkatkan pengetahuan, keterampilan dan penyesuaian sikap seseorang terhadap tugas-tugas yang ditangani. Pelatihan biasanya diberikan kepada sekelompok orang untuk kepentingan organisasi, baik organisasi pemerintah maupun organisasi swasta.

B. Tujuan dan Sasaran Pelatihan dan Pengembangan

Menurut Sikula,1976 (dalam Munandar 2008), tujuan dari pelatihan dan pengembangan secara umum sebagai berikut : 

  • Meningkatkan produktivitas 
Pelatihan pengembangan diberikan pada tenanga kerja baru dan tenaga kerja lama. Pelatihan dapat meningkatkan taraf prestasi tenaga kerja pada jabatannya sekarang. Prestasi kerja yang meningkat mengakibatkan peningkatan dari produktivitas. 

Meningkatkan mutu Tenaga kerja yang berpengetahuan dan berketerampilan baik hanya akan membuat sedikit kesalahan dan cermat dalam pelaksanaan pekerjaan. 
  • Meningkatkan ketepatan 
dalam perencanaan sumber daya manusia Pelatihan dan pengembangan yang tepat dapat membantu perusahaan untuk memenuhi keperluannya akan tenaga kerja dengan pengetahuan dan keterampilan tertentu di masa yang akan datang. Jika suatu saat diperlukan, maka lowongan yang ada dapat secara mudah diisi oleh tenaga dari dalam perusahaan sendiri. 

  • Meningkatkan semangat kerja Iklim dan suasana organisasi 
pada umumnya menjadi lebih baik jika perusahaan mempunyai program pelatihan yang tepat. Suatu rangkaian reaksi positif dapat dihasilkan dari program pelatihan perusahaan yang direncanakan dengan baik.
  • Menarik dan menahan tenaga kerja yang baik 
Para manajer memandang kemungkinan untuk mengikuti pelatihan dan pengembangan sebagai bahan dari imbalan jasa dari perusahaan kepada mereka. Mereka berharap perusahaan membayar program pelatihan yang mengakibatkan mereka bertambah pengetahuan dan keterampilan dalam keahlian mereka masing-masing. Karena itu banyak perusahaan yang menawarkan program pelatihan dan pengembangan yang khusus untuk menarik tenaga kerja yang berpotensi baik.
  • Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja 
Pelatihan yang tepat dapat membantu menghindari timbulnya kecelakaan di perusahaan dan dapat menimbulkan lingkungan kerja yang lebih aman dan sikap mental yang lebih stabil.
  • Menghindari keusangan 
Usaha pelatihan dan pengembangan diperlukan secara terus-menerus supaya para tenaga kerja dapat mengikuti perkembangan terakhir dalam bidang kerja mereka masing-masing.
  • Menunjang pertumbuhan pribadi 
Pelatihan dan pengembangan tidak hanya unutk menguntungkan perusahaan tetapi juga menguntungkan tenaga kerja sendiri

C. Faktor Psikologi Dalam Pelatihan dan Pengembangan

menurut John Miner (1992) dalam bukunya Industrial-Organizational Psychology, peran psikologi dalam pelatihan dan pengembangan adalah
  1. Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada produktivitas : melakukan pelatihan dan pengembangan, menciptakan manajemen keamanan kerja dan teknik-teknik pengawasan kinerja, meningkatkan motivasi dan moral kerja karyawan, menentukan sikap-sikap kerja yang baik dan mendorong munculnya kreativitas karyawan. 
  2. Terlibat dalam proses output: melakukan penilaian kinerja, mengukur produktivitas perusahaan, mengevaluasi jabatan dan kinerja karyawan. 
  3. Terlibat dalam proses input : melakukan rekrutmen, seleksi, dan penempatan karyawan. 
  4. Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada pemeliharaan: melakukan hubungan industrial (pengusaha-buruh-pemerintah), memastikan komunikasi internal perusahaan berlangsung dengan baik, ikut terlibat secara aktif dalam penentuan gaji pegawai dan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya, pelayanan berupa bimbingan, konseling dan therapi bagi karyawan-karyawan yang mengalami masalah-masalah psikologis
D. Teknik dan Metode Pelatihan

Bentuk pelatihan dapat dibedakan ke dalam pelatihan pada pekerjaan (on the job pelatihan) dan pelatihan diluar pekerjaan (off the job pelatihan). Menurut Munandar 2008 terdapat enam Teknik dan metode pelatihan dikelas, yaitu :

  • Kuliah 
Suatu ceramah yang disampaikan secara lisan untuk tujuan pendidikan. Kuliah adalah pembiacaraan yang diorganisasikan secara formal tentang hal-hal khusus. Kelebihan dari kuliah adalah bahwa metode ini dapat dipakai untuk kelompok yang sangat besar sehingga biaya per trainee rendah dan dapat menyajikan bahan pengetahuan dengan waktu yang relatif singkat. Kelemahan dari kuliah adalah para trainee lebih bersikap pasif.
  • Konperensi
Merupakan pertemuan formal dimana terjadi diskusi atau konsultasi tentang suatu hal yang penting. Konperensi menekankan adanya diskusi kelompok kecil, bahan yang terorganisasi dan keterlibatkan peserta secara aktif.
  • Studi Kasus (Case Study)
Merupakan uraian tertulis atau lisan tentang masalah dalam perusahaan atau tentang keadaan perusahaan selama kala waktu tertentu yang nyata atau hipotesis (namun didasarkan pada kenyataan). Pada metode ini para trainee diminta untuk mengindentifikasi masalah dan merekomendasikan jawabannya.
  • Bermain Peran (Role Play)
Peran adalah suatu pola perilaku yang diharapkan. Peserta diberi tahu tentang suatu keadaan dan peran mereka yang harus mereka mainkan tanpa script. Kebaikan metode ini memungkinkan belajar melalui perbuatan, menekankan kepekaan manusia dan interaksi manusia, memberitahu secara langsung hasilnya, menimbulkan minat dan keterlibatan yang tinggi dan menunjang pengalihan pembelajaran (transfer of learning).
  • Bimbingan Berencana atau Instruksi Bertahap (Programmed Instruction)
Terdiri atas satu urutan langkah yang berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau suatu kelompok tugas pekerjaan. Metode ini meliputi langkah-langkah yang telah diatur terlebih dahulu tentang prosedur yang berhubungan dengan dapat dikuasainya suatu keterampilan yang khusus atau suatu pengetahuan umum. Metode ini dapat dilaksanakan memakai buku atau mesin pengajaran.
  • Metode Simulasi 
Berusaha menciptakan situasi yang merupakan tiruan dari keadaan nyata. Dalam hubungannya dengan pelatihan, maka suatu simulasi adalah suatu jenis alat atau teknik yang menyalin setepat mungkin kondisi-kondisi nyata. Dalam hubungannya dengan pealtihan, maka suatu simulasi adalah suatu jenis alat atau teknik yang menyalin setepat mungkin kondisi-kondisi nyata yang ditemukan dalam pekerjaan. Contoh dari pelatihan adalah laboratorium antariksa. Pilot diajarkan menerbangkan kapal terbang jenis baru dalam model yang dapat bekerja seolah-olah seperti kapal terbang nyata. Para astronot kemudian di train untuk terbang ke bulan dalam kapsul ruang angkasa tiruan.



Daftar Pustaka

  • Devito, J.A. (2011). Komunikasi antar manusia. Jakarta : Karisma Publishing Group.
  • Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.(1998). Pengantar Ilmu komunikasi. Jakarta : RajaGrafindo Persada (Rajawali Perss)
  • John, B.M. (1992). Industrial-Organizational Psychology.
  • Lubis,W.L. (2008). Peranan Komunikasi Dalam Organisasi: Jurnal Harmonisasi sosial. Vol II. No 2. Sumatra Utara : Universitas Sumatra Utara
  • Munandar, A.S. (2008). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
  • http://www.academia.edu/6890068/Komunikasi_Interpersonal_dan_Intrapersonal
Author: Bianda Fedia Puspitasari
•08.54.00

Pengorganisasian Struktur Manajemen






A. Definisi Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah  langkah untuk menetapkan, menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas- tugas pokok, wewenang dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam wewenang oleh pimpinan kepada  stafdalam rangka mencapai tujuan organisasi.

berikut definisi pengorganisasian menurut para ahli :

Stoner dan Walker (1986)
Pengorganisasian merupakan satu proses di mana aktivitas kerja disusun dan dialihkan kepada sumber tenaga untuk mencapai tujuan sebuah organisasi.
Jaafar Muhammad (1992)
Pengorganisasian adalah penyusunan sumber-sumber organisasi dalam bentuk kesatuan dengan cara yang berkesan agar tujuan dan objektif organisasi yang dirancang dapat dicapai. 
Gatewood, Taylor, dan Farell
Pengorganisasian adalah aktivitas yang terlibat dalam suatu struktur organisasi yang sesuai, memberi tugas kepada pekerja serta membentuk hubungan yang berguna di antara pekerja dan tugas-tugas.
B. Pengorganisasian Sebagai Fungsi Manajeman





pengorganisasian yang merupakan salah satu fungsi manajemen yang penting karena dengan pengorganisasian berarti akan memadukan seluruh sumber-sumber yang ada dalam organisasi,baik yang berupa sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya ke arah tercapainnya suatu tujuan.

pentingnya pengorganisasian sebagai fungsi yang dijalankan oleh setiap manajer atau orang-orang yang menjalankan manajemen dalam setiap organisasi.Fungsi manajemen lainnya yaitu pengorganisasian,yang sama pula pentingnya dengan fungsi perencanaan karena dalam pengorganisasian seluruh sumber(resources) baik berupa manusia maupun yang nonmanusia harus diatur dan paduakan sedemikian rupa untuk berjalannnya suatu organisasi dalam rangkai pencapaian tujuannya.

Acuating Manajemen

A. Definisi Actuating



George, R. Terry


(George, R. Terry, 1986) mendefinisikan Acuating adalah paya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap staf dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggungjawabnya.

Jadi Actuating dapat diartikan   menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau dengan kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. 
atau suatu tindakan untuk mengusahakan agarsemua agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapaisasaran yang sesuai dengan perencanaan manejerial dan usaha-usaha organisasi. artinya menggerakkan orang-orang agarmau bekerja dengan sendirinya atau dengan kesadaran secarabersama-sama untuk mencapai tujuan dikehendaki secara efektif.

B. Pentingnya Actuating 




Actuating  memiliki tujuan dan fungsi yang sangat penting diantaranya

• Menciptakan kerja sama yang lebih efisien
• Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan staf 
• Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan 
• Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan motivasi dan prestasi kerja staf 
• Membuat organisasi berkembang secara dinamis


C. Prinsip Actuating

Kurniawan (2009) menuturkan prinsip-prinsip dalam actuating antara lain:


  • Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya 
  • Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia 
  • Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi 
  • Menghargai hasil yang baik dan sempurna 
  • Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih
  • Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup 
  • Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya
Mengendalikan Fungsi Manajemen




A. Definisi Controlling

Controlling atau, sering juga disebut pengendalian adalah satu diantara beberapa fungsi manajemen berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan tujuan yang telah digariskan semula

berikut definisi Controlling menurut para ahli :

George R. Terry

pengawasan (controlling) yaitu untuk mengawasi apakah gerakan dari organisasi ini sudah sesuai dengan rencana atau belum. Serta mengawasi penggunaan sumber daya dalam organisasi agar bisa terpakai secara efektif dan efisien tanpa ada yang melenceng dari rencana.

Harold Koontz 
pengendalian adalah pengukuran dan koreksi kinerja dalam rangka untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan perusahaan dan rencana yang dirancang untuk mencapainya tercapai.
Henri Fayol (1961)
merumuskan salah satu definisi pertama kontrol karena berkaitan dengan manajemen. Adalah pengendalian suatu usaha terdiri dari melihat bahwa segala sesuatu yang sedang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah diadopsi, perintah yang telah diberikan, dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Controlling sangat penting untuk mengetahui kesalahan agar mereka dapat diperbaiki dan dicegah dari berulang.
B. Kontrol Sebagai Proses Manajemen



Dalam proses pengendalian manajemen yang baik sebaiknya formal, akan tetapi sifat pengendalian informal pun masih banyak digunakan untuk proses manajemen. Pengendalian manajemen formal merupakan tahap-tahap yang saling berkaitan antara satu dengan lain, terdiri dari proses :


  • Pemrograman (Programming) 
Dalam tahap ini perusahaan menentukan program-program yang akan dilaksanakan dan memperkirakansumber daya yang akan alokasikan untuk setiap program yang telah ditentukan.
  • Penganggaran (Budgeting) 
Pada tahap penganggaran ini program direncanakan secara terinci, dinyatakan dalam satu moneteruntuk suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. Anggaran ini berdasarkan pada kumpulan anggarananggaran dari pusat pertanggungjawaban.
  • Operasi dan Akuntansi (Operating and Accounting) 
Pada tahap ini dilaksanakan pencatatan mengenai berbagai sumber daya yang digunakan dan penerimaan-penerimaan yang dihasilkan. Catatan dan biaya-biaya tersebut digolongkan sesuai dengan program yang telah ditetapkan dan pusat-pusat tanggungjawabnya. Penggolongan yang sesuai program dipakai sebagai dasar untuk pemrograman di masa yang akan datang, sedangkan penggolongan yang sesuai dengan pusat tanggung jawab digunakan untuk mengukur kinerja para manajer.
  • Laporan dan Analisis (Reporting and Analysis) 
Tahap ini paling penting karena menutup suatu siklus dari proses pengendalian manajemen agar data untuk proses pertanggungjawaban akuntansi dapat dikumpulkan.

C. Tipe-Tipe Kontrol

Menurut Winardi (2000) terdapa empat tipe-tipe kontrol atau pengawasan yaitu :

  • Pengawasan pendahuluan(feedforward control)/steering controls, 
dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah atau penyimpangan-penyimpangan dari standar atau tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu diselesaikan.
  • Pengawasan concurrent(concurrent control) 
yaitu pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan.
  • Pengawasan umpan balik(feedback control)/past-action controls, 
mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang sudah diselesaikan.

Motivasi




A. Definisi Motivasi

Gerungan (dalam Desiani 2008) mengatakan bahwa motivasi adalah semua penggerak alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu dimana motif-motif itu memberi tujuan dan arah kepada tingkah laku kita. Desiani (2008) dalam jurnalnya menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan motivasi adalah kondisi dalam diri individu yang dapat mendorongnya untuk bertindak atau bertingkah laku untuk mencapai pemenuhan dari kepentingan dan tujuannya.



Motivasi berasal dari bahasa Latin movere yang berarti bergerak atau dalam bahasa inggris to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif saling berkaitan dengan faktor eksternal dan faktor internal. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut motivasi. Jadi, motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan. Sedangkan menurut Plotnik, motivasi mengacu pada berbagai faktor fisiologi dan psikologi yang menyebabkan seseorang melakukan aktivitas dengan cara yang spesifik pada waktu tertentu.

B. Teori - Teori Motivasi

1. Teori kebutuhan 

Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Apabila pegawai kebutuhannya tidak terpenuhi maka pegawai tersebut akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi maka pegawai tersebut akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya. Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku pegawai. 

Abraham Maslow


Hierarki kebutuhan Abraham Maslow  : 
  • Kebutuhan fisiologis 
  • Kebutuhan rasa aman 
  • Kebutuhan untuk merasa memiliki 
  • Kebutuhan akan harga diri 
  • Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.
2. Teori ERG (Esixtance, Relatedness, Growth) 

Teori ERG merupakan refleksi dari nama tiga dasar kebutuhan, yaitu : 
  • Existance needs. 
Kebutuhan ini berhubungan dengan fisik dari pegawai seperti makan, minum, pakaian, bernafas, gaji, keamanan, kondisi kerja, fringe benefits.
  • Relatedness needs. 
Kebutuhan interpersonal yaitu kepuasan dalam berinteraksi dalam lingkungan kerja.
  • Growth needs. 
Kebutuhan untuk mengembangkan dan meningkatkan pribadi. Hal ini berhubungan dengan kemampuan dan kecakapan pegawai.

3. Teori Insting 

Teori motivasi insting berasal dari teori evaluasi Charles Darwin. Darwin berpendapat bahwa tindakan intelligent merupakan refleks dan instingtif yang diwariskan. Oleh karena itu, tidak semua tingkah laku dapat direncanakan sebelumnya dan dikontrol oleh pikiran. McDougall menyusun daftar insting yang berhubungan dengan tingkah laku : terbang, rasa jijik, rasa ingin tahu, kesukaan berkelahi, rasa rendah diri, menyatakan diri, kelahiram, reproduksi, lapar, berkelompok, ketamakan, dan membangun.


4. Teori Drive 

Woodworth menggunakan drive sebagai energy yang mendorong suatu organisasi untuk melakukan suatu tindakan. Menurut Hull motivasi seorang pegawai sangat ditentukan oleh kebutuhan dalam dirinya (drive) dan faktor kebiasaan (habit) pengalaman belajar sebelumnya. 

5. Teori Lapangan 

Teori lapangan merupakan konsep dari Kurt Lewin. Teori ini merupakan pendekatan kognitif untuk mempelajari perilaku dan motivasi. Teori lapangan lebih memfokuskan pada pikiran nyata seorang pegawai ketimbang pada insting atau habit. Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari lapangan pada momen waktu.

C. Definisi Motivasi Kerja

(Messa 2012) mendefinisika Motivasi kerja sebagai kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat di dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan.
definisi lainnya mengenai motivasi kerja menurut Ernest J. McCormick (1989) “Work motivation is defined as conditions which influence the aurosal, direction, and maintenance of behaviors relevant in work setting” (Motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja).

Kepuasan Kerja


A. Definisi Kepuasan Kerja

Robbins (1996) mendefenisikan kepuasan kerja sebagai suatu sikap umum terhadap pekerjaan seseorang, selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja dan banyaknya yang mereka yakini seharusnya mereka terima.Menurut Wexley & Yukl (dalam As’ad, 2002) yang disebut kepuasan kerja ialah perasaan seseorang terhadap pekerjaanya. Definisi menurut Hoppeck (dalam Anoraga, 2001)  kepuasan kerja merupakan penilaian dari karyawan mengenai seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan memuaskan kebutuhannya. (Salani 2006) menyimpulkan definisi kepuasan kerja sebagai perasaan yang menyangkut individu atau karyawan terhadap pekerjaannya, apakah memuaskan kebutuhannya atau tidak

B. Aspek-Aspek Kepuasan Kerja



Aspek-aspek Kepuasan Kerja Menurut Robbins (1996) ada lima aspek kepuasan kerja, yaitu: 

1. Kerja yang secara mental menantang 

Karyawan cenderung menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik mereka mengerjakan tugas tersebut. Karakteristik ini membuat kerja secara mental menantang. Pekerjaan yang kurang menantang menciptakan kebosanan, sebaliknya jika terlalu banyak pekerjaan menantang dapat menciptakan frustrasi dan perasaan gagal. Pada kondisi tantangan yang sedang, kebanyakan karyawan akan mengalamai kesenangan dan kepuasan dalam bekerja.

2. Ganjaran yang pantas 

Para karyawan menginginkan pemberian upah dan kebijakan promosi yang mereka persepsikan adil dan sesuai dengan harapan mereka. Bila upah dilihat adil yang didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar upah karyawan, kemungkinan besar akan mengahsilkan kepuasan. Tentu saja, tidak semua orang mengejar uang. Banyak orang bersedia menerima uang yang lebih kecil untuk bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam pekerjaan yang kurang menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih besar dalam kerja yang mereka lakukan dan jam-jam kerja. Intinya bahwa besarnya Universitas Sumatera Utara14 upah bukanlah jaminan untuk mencapai kepuasan, namun yang lebih penting adalah persepsi keadilan. Sama dengan karyawan yang berusaha mendapatkan kebijakan dan promosi yang lebih banyak, dan status sosial yang ditingkatkan. Oleh karena itu individu-individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat dalam cara yang adil kemungkinan besar akan mendapatkan kepuasan dari pekerjaan mereka.

3. Kondisi kerja yang mendukung 

Karyawan perduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas. Studi-studi memperagakan bahwa karyawan lebih menyukai lingkungan kerja yang tidak berbahaya. Seperti temperatur, cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan lain harus diperhitungkan dalam pencapaian kepuasan kerja. 

4. Rekan kerja yang mendukung 

Karyawan akan mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial. Oleh karena itu sebaiknya karyawan mempunyai rekan sekerja yang ramah dan mendukung. Hal ini penting dalam mencapai kepuasan kerja. Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan. Umumnya studi mendapatkan bahwa kepuasan karyawan ditingkatkan bila atasan langsung bersifat ramah dan dapat memahami, menawarkan pujian untuk kinerja yang baik, mendengarkan pendapat karyawan, dan menunjukkan suatu minat pribadi pada mereka.

5. Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan 

Pada hakikatnya orang yang tipe kepribadiannya sama dengan pekerjaan yang mereka pilih seharusnya mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan lebih memungkinkan untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari pekerjaan mereka.

C. Faktor Penentu Kepuasan Kerja


Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja ( Greenberg & Baron 1995) terbagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan individu dan faktor-faktor yang berhubungan dengan organisasi. Faktor-faktor tersebut adalah:

a. Faktor-faktor yang berkaitan dengan individu 

Faktor-faktor yang berkaitan dengan individu adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu, yang membedakan antara satu individu dengan individu yang lain, yang menentukan tingkat kepuasan kerja yang dirasakan. Faktor-faktor dari diri individu yang mempengaruhi tingkat kepuasan kerja adalah:

  • Kepribadian 
  • Nilai-nilai yang dimiliki individu 
  • Pengaruh sosial dan kebudayaan 
  • Minat dan penggunaan keterampilan 
  • Usia dan pengalaman kerja 
  • Jenis kelamin 
  • Tingkat Inteligensi
  • Status dan senioritas
b. Faktor-faktor yang berhubungan dengan organisasi

Yang dimaksud dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan organisasi adalah faktor dari dalam organisasi dan dari lingkungan organisasi yang mempengaruhi kepuasan kerja individu. Faktor-faktor tersebut adalah:


  • Situasi dan kondisi pekerjaan 
  • Sistem imbalan 
  • Penyelia dan komunikasi 
  • Pekerjaan Keamanan 
  • Kebijaksanaan perusahaan 
  • Aspek sosial dari pekerjaan
  • Kesempatan untuk pertumbuhan dan promosi


Daftar Pustaka

_____,Fungsi pengorganisasian.[PDF], ( ocw.usu.ac.id/course/download/128-MANAJEMEN/manajemen_slide_fungsi_pengorganisasian.pdf , diakses pada tanggal 29 oktorber 2014)

Anoraga, P. 2001. Psikologi KErja. Jakarta : Rineka Cipta

As'ad, Syarif, Actuating (Pelaksanaan)Pengantar Manajemen dan Perbankan .[PDF], ( http://blog.umy.ac.id/syarifasad/files/2011/11/Actuating-Pelaksanaan.pdf., diakses pada tanggal 29 oktorber 2014)

As'ad, M. 2002. Psikologi Industri Seri Ilmu Sumber Daya MAnusia. Edisi KE- Empat. Yogyakarta : Liberty

Basuki, Heru A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Gunadarma.

Ernest J. McCormick. (1985). Industrial Psychology. New York : Prentice Hall, Inc.

Greenberg, J & Baron, R.A. 1995. Behaviour In Organization Understanding and Managing The Human Side Of Work. 5th ed. Englewood Cliffts, New Jersey: Prentice Hall International, Inc.

Maentiningsih, D. (2008).Hubungan antara secure attachment dengan motivasi berprestasi pada remaja.[PDF], ( http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2009/Artikel_10509046.pdf, diakses pada tanggal 07 november 2014)

Messa,M.D. (2012). Pengaruh Kedisiplinan, Motivasi kerja, dan Persepsi Guru Tentang Kepemimpinan Kepala Sekolah TErhadap Kinerja Guru SMKN 1 Purworejo Pasca Sertifikasi.[PDF], ( http://http://eprints.uny.ac.id/6119/1/PENGARUH%20KEDISIPLINAN,%20MOTIVASI%20KERJA,%20DAN%20PERSEPSI%20GURU%20TENTANG%20KEPEMIMPINAN%20KEPALA%20SEKOLAH%20TERHADAP%20KINERJA%20GURU%20SMKN%201%20PURWOREJO%20PASCA%20SERTIFIKASI.pdf, diakses pada tanggal 07 november 2014)

Ramli,R,Warsidi,A,Pengorganisasian sebagai Salah Satu Fungsi Manajemen.[PDF], ( http://widyo.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/39387/PENGORGANISASIAN+SBG+FUNGSI.pdf., diakses pada tanggal 29 oktorber 2014)

Robbins, Stephen, 1996, Organizational Behavior, Prentice Hall, New Jersey

Salani, M. (2006). Kepuasan KErja Pada Karyawan Bagian Produksi PT. Dystar Colours Indonesia. Depok : Universitas Gunadarma. [PDF], ( http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2006/Artikel_10501191.pdf, diakses pada tanggal 07 november 2014)

Winardi, J. 2003. Teori Organisasi dan Pengorganisasian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23597/3/Chapter%20II.pdf

http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2014/03/12/fungsi-controlling-dalam-manajemen-638047.html

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kasus Mengenai Motivasi Kerja



Menhub Ignasius Jonan, Semua Berawal dari Kereta Api


Dirut PT KAI Ignasius Jonan, dalam acara CEO Speaks yang diselenggarakan Universitas Bina Nusantara.


JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi Ignasius Jonan, kereta api adalah segala-galanya. Mulai dari istri hingga meraih kepercayaan sebagai Menteri Perhubungan, semuanya dimulai dari kereta api. 

Kereta api memang mempunyai tempat tersendiri di hati Ignasius Jonan. Ia pernah bertemu dengan seorang gadis, yang kini menjadi istrinya, di kereta api.

”Saya itu kenal istri waktu naik kereta api dari Surabaya ke Blitar tahun 1985. Ternyata dia adik kelas saya. Saya sudah tingkat terakhir, dia tingkat pertama,” kata Jonan yang alumnus Universitas Airlangga, Surabaya, itu mengenang peristiwa 29 tahun lalu sebagaimana dikutip dari Harian Kompas (18/5/2014). 

Itulah mengapa ia merasa punya ”utang” pada kereta api. "Utang" Jonan kepada kereta api tentunya juga akan makin besar seiring dengan ditunjuknya dia menjadi Menteri Perhubungan, karena dinilai berhasil memperbaiki manajemen PT Kereta Api Indonesia.

Jonan yang memiliki tanggal lahir yang sama dengan Presiden Joko Widodo ini, yaitu 21 Juni, merupakan alumnus Universitas Airlangga jurusan Akuntansi.

Sebelum menduduki jabatan sebagai Dirut KAI, dia pernah berkarier sebagai Direktur Private Equity Citi (1999-2001), Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (2001-2006), Managing Director and Head of Indonesia Investment Banking Citi (2006-2008), dan terakhir sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (2009-saat ini).

Salah satu keberhasilan Jonan dalam merombak KAI adalah dia membawa kultur tanggung jawab di antara pegawai, serta passion untuk menghasilkan output yang terbaik sesuai kemampuan. 

"Saya bilang ke teman-teman, okelah, kamu perbaiki satu hal kecil dalam pekerjaan Anda, dalam satu hari satu saja. Itu dalam setahun, Anda akan menjadi orang yang berbeda, wong ada 365 hari dalam setahun. Memperbaiki 200 saja apa pun bentuknya," kata Jonan


Analisa Kasus :




Kesuksesan Ignasius Jonan sebagai direktur utama PT Kereta Api Indonesia sudah tidak diragukan lagi (baca disini : Kesuksesan Ignasius Jonan Membenahi PT KAI Mengantarkannya Menjadi Menteri ) kesuksesan tersebut kemudian mengantarkannya menjadi menteri di kabinet kerja Jokowi - Jusuf Kalla. apa dan bagaimana bisa jonan merubah wajah PT KAI yang semula terkesan kumuh menjadi seperti sekarang ini dan bagaimana jonan dapat meraih kesuksesannya ? tentu usaha dan kerja keras lah yang mengantarkannya menjadi seperti sekarang ini. namun di balik usaha dan kerja keras ada satu hal lagi yang tidak boleh di lupakan yaitu Motivasi Kerja (Ernest J. McCormick 1989) mendefinisikan motivasi kerja sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja. berdasarkan artikel diatas diketahui jonan merasa memiliki "Utang" pada kereta api karena banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya berawal dari kereta api. salah satunya adalah pertemuannya dengan sang istri pada saat ia naik kereta api dari Surabaya ke Blitar pada tahun 1985. perasaan memiliki "utang" dan rasa cintanya pada kereta api itu lah yang menumbuhkan Motivasi Kerja pada jonan sehingga ia bekerja keras untuk memperbaiki PT KAI .


Sumber :

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/10/26/190045426/Menhub.Ignasius.Jonan.Semua.Berawal.dari.Kereta.Api

-Bianda Fedia-